Weatherlova
Dimulai dari kisah dua saudara perempuan. Bernama Winter dan Summer. Namanya di ambil dari nama musim yang mencerminkan dua kepribadian mereka yang berbeda. Summer adalah anak perempuan cantik berambut panjang ikal, dan mudah tersenyum. Pembawaannya riang dan ia menyukai matahari. Sementara Winter adalah sosok kaku yang mencoba tidak bersikap dingin pada orang lain. Dia sosok baik yang selalu mendampingi Summer dan senang sekali menghiburnya. Bagi Winter Summer adalah mataharinya. Walaupun ia menyukai hujan.
Pada suatu hari di siang yang terik, Summer mengajak Winter bermain di tepian danau, bernama Danau Biru. Di sanalah mereka menghabiskan setengah hari mereka sampai malam tiba. Summer meraih tangan Winter yang dingin. Dan dengan senag hati Winter manyambut kehangatan tangan Summer.
" Apa yang akan kita lakukan?" tanya Winter pada Summer
" Tentu saja seperti biasa." jawab Summer disusul dengan senyum indahnya.
" Kau ingin menemui matahari?" tanya Winter.
" Sudah pasti." jawabnya riang. Winter terdiam sejenak. Summer menyadari kebisuan sahabatnya. " Tentu saja kau juga bisa menemui hujan di sana." sambungnya kemudian.
Winter memandang Summer sejenak dengan mata dalamnya.
" Terima kasih kau telah menghiburku. Tapi aku cukup tahu, hari ini tidak akan ada hujan. Ini adalah waktumu , Summer."kata Winter tersenyum. Ada semburat kesedihan di mata Winter, dan itu sempat tertangkap sekilat oleh Summer. Dia tersadar akan sesuatu. Summer merasakan apa yang Winter rasakan. Ada perih yang menelisik hatinya. Inikah yang sedang kau rasakan sahabatku? Sebegitu perihnya? batin Summer . Ia masih merasakan genggaman tangan Winter yang terasa semakin dingin. Aku harus melakukan sesuatu. Batin Summer. Mendadak ia berhenti diikuti dengan Winter yang terlihat heran.
" Kau kenapa? Ayo cepatlah sedikit." Winter menarik tangan Summer. Tapi Summer menahannya.
" Aku tidak ingin ke sana." katanya.
" Kenapa?" Winter memandang. Seolah dia mengerti apa yang sedang Summer pikirkan. “ Jangan bilang kau berubah pikiran karena omongan tadi. Lupakan! Aku ingin kita cepat sampai ke Danau Biru.” Winter tidak melepaskan genggaman tangannya. Summer terdiam.
“ Aku memang tidak ingin ke sana.” Katanya lirih.
“ Kenapa?” Tanya Winter. “ Kau tadi yang mengajakku ke sana.”Winter merasa heran. Summer tertunduk diam. Tiba-tiba Winter melepas genggamannya. “ Sekarang apa maumu jika kau tidak ingin ke sana? ” suaranya terdengar tenang.
“ Aku ingin ke tempat lain.” Summer masih tertunduk. Suaranya terdengar lirih.
“ Kemana?” Tanya Winter heran. Dia tak tau kenapa Summer menjadi aneh begitu.
“ Ke tempat yang belum pernah aku kunjungi.”
“ Lalu kau mau ke mana?” Winter masih tidak mengerti maksud dari gadis kecil yang berdiri tepat di depannya.
“ Aku tidak tahu. Aku ingin kau yang mengajakku pergi.” Suaranya terdengar bergetar. Winter terdiam sejenak. Mencerna setiap perkataan yang Summer ucapkan. Sebenarnya dia bingung harus bagaimana.
“ Kau bisa sedikit jelaskan, sebenarnya kau kenapa?” Winter mendekati Summer . “ Jujur, aku sama sekali tidak mengerti. Kenapa kau mendadak berubah pikiran?”
Summer mengangkat wajahnya. Dari sorot matanya mulai terlihat kesedihan. Winter semakin bingung melihat ekspresi gadis yang berdiri mematung di depannya. “ Aku juga bingung denganmu. Setiap hari kau selalu menemaniku kemana saja saat aku memintamu. Kau tidak pernah berkata tidak. Sampai saat ini, kau belum pernah mangajakku pergi ke tempat yang kau sukai. Kenapa begitu?”suaranya terdengar mendesak. Winter terpaku beberapa saat.
“ Aku…” Winter terdiam kembali. Matanya beralih ke arah rumput ilalang yang tumbuh menjajari jalan. Ia diam sejenak.
“ Sekarang biarkan aku yang ikut denganmu.” Summer mendahului sebelum Winter menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaannya. “ Sekarang kau pikirkan saja, kemana kita akan pergi.” Kali ini disertai dengan senyuman. Summer melihat Winter semakin bingung. Tapi ia telah memutuskan untuk menunggu dengan sabar.
Winter berdiri memunggungi Summer. Sesaat dia menengadah ke langit cerah. Angin bertiup perlahan. Kemudian dia tersenyum samar. Berbalik dan melihat sosok gadis periang itu masih berdiri menatapnya, tepat di belakangnya. “ Baiklah…” kata winter sambil tersenyum. “aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Tapi setelah aku mengantarmu menemui matahari. Kau tidak boleh ingkar janji. “
Summer sempat terkejut mendengar jawaban itu. Tapi tanpa pikir panjang, dia menyetujui. “ Tentu saja.” Senyum cerah tersungging di wajahnya.
Akhirnya mereka malanjutkan perjalanan hari itu, menuju ke Danau Biru, dan sesuai dengan janjinya, Winter mengajak Summer ke suatu tempat yang belum pernah Summer kunjungi.
######